A Messy Origin Story With a Lousy Hardy

Membahas soal Venom tentunya tak akan lepas dari Spider-Man. Venom pun pertama kali muncul dalam bagian arc penting dalam perjalanan si manusia laba-laba dalam seri komiknya. Sehingga, bisa dibilang tak akan ada Venom tanpa kehadiran Spidey. Tapi justru itulah yang persis dilakukan oleh Sony. Seolah tak mau rugi, Sony mencari karakter Marvel (yang masih mereka pegang rights-nya) untuk bisa dieksploitasi demi menggantikan Spider-Man –lumbung uang yang telah mereka ‘pinjamkan’ ke Disney’s MCU- selagi mencoba membuat semesta sinema baru yang berpusat padanya. Maka sebagai salah satu musuh paling ikonik dan populer dari Spidey, Venom lah yang dipilih. Jadilah origin story dari Venom yang diangkat sebagai tumpuan baru Sony dengan menonjolkan sisi anti-hero dari Venom yang cukup banyak juga ditampilkan di dunia komik.

To be fair, usaha Sony kali ini bisa dibilang cukup niat. Lihat saja pemeran utama yang dipilih untuk memainkan karakter tituler Eddie Brock adalah aktor sekaliber Tom Hardy. Tak hanya itu, Michelle Williams dan Riz Ahmed pun mendampingi Hardy lewat peran-peran krusial dalam film ini; love interest & main villain. Ruben Fleischer yang didapuk sebagai sutradara pun punya jejak rekam cukup baik. Di atas kertas, ini bisa jadi bagus.

Namun, harapan tinggal harapan. Venom tampil berantakan dengan banyak kekurangan. Dari sekian banyak kemungkinan untuk mengeksplor materi sumbernya yang cukup kaya, Venom memilih menjadi cerita origin generik penuh klise. Tentu saja ini tak lepas dari keterbatasan akibat kealpaan Spidey yang membuat cerita origin-nya terasa incomplete. Adaptasi yang dilakukan untuk memisahkan diri dari bayang-bayang Spidey pun jadi terasa janggal. Konflik yang dibangun tak punya pondasi kuat dan motivasi karakter-karakternya terasa dangkal. Hal ini juga membuat oversimplifikasi karakter Eddie Brock, yang sebenarnya lebih punya kedalaman dan kompleksitas lebih di materi sumbernya. Tom Hardy pun tak bisa berbuat banyak mengingat skrip buruk yang diberikan. Namun, ia bukan penampil terburuk karena gelar itu harus diberikan ke Riz Ahmed with his uninspired performance as the villain. Penampilannya kali ini entah kenapa terlihat aneh dan canggung sehingga membuatnya terasa miscast.

Toh, semua tak menjadi soal bagi Sony karena tujuan utama mereka untuk menjadikan film ini sebagai lumbung uang baru bagi mereka tercapai. Venom tetap keluar sebagai box office hit walau dihajar oleh kritikus. On some level, it was a success, of course, in its own term. But not for me.

Rating: ☆☆★★★