The Tasteful Journey of Finding The Right Balance

Aruna Dan Lidahnya muncul layaknya sebuah menu baru yang langsung menarik perhatian di tengah-tengah sajian tren horror yang masih mendominasi pilihan untuk penonton sinema lokal dalam beberapa bulan ke belakang. Tengok saja bahan-bahan yang disiapkan untuk film ini. Di mulai dari cast utama berkualitas macam Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Oka Antara, dan Hannah Al Rashid, serta disutradarai oleh Edwin -yang tahun lalu sukses lewat film favorit kritik dan festival, Posesif– tentu saja Aruna Dan Lidahnya sudah terasa menjanjikan sedari aromanya saja. Lantas, apakah komposisi apik ini dapat menemukan keseimbangan rasanya dan menjadi racikan yang sedap untuk disantap? (PS: I’m sorry that I’m gonna use so many food/eating puns today)

Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak, cerita film ini bermuara pada perjalanan Aruna (Dian Sastrowardoyo) dalam menyelidiki dan melakukan cross-checked lapangan terkait laporan instansi pemerintah -yang juga datang diwakili oleh mantan rekan kerja dan bekas gebetan Aruna, Farish (Oka Antara)- tentang dugaan wabah flu burung ke beberapa daerah di Jawa dan Kalimantan. Juga, di balik tujuan utama lain untuk menjelajahi kuliner khas daerah-daerah tersebut dan mencari sebuah resep Nasi Goreng -yang memiliki sentimen nostalgik bagi Aruna- bersama sahabat dan temannya, Bono (Nicholas Saputra) dan Nadezhda (Hannah Al Rashid).

Sebagai road movie yang juga merupakan food movie, bukan hal mudah untuk menjaga keseimbangan dalam bercerita, memberi ruang bagi para karakter untuk berkembang, dan mengemas visualnya agar tetap menarik. Namun, Edwin sebagai sutradara cukup baik dalam melakukan tugasnya sehingga eksekusinya terasa berhasil. Bak seorang koki handal yang sedang meracik hidangan, masing-masing takaran terasa pas, tak saling menutupi, dan bahkan saling melengkapi.

Aspek penting lain dalam film ini tentulah solidnya skenario yang ditulis Titien Wattimena. Terdapat banyak pengemasan filosofi di balik analogi yang cermat dan juga kritik sosial di balik silang ideologi antar karakternya yang on point. Tak cuma itu; alur konflik menarik, percakapan natural nan unik, dan pembentukan chemistry secara organik dapat tertampak di layar, effortlessly. Tentu saja kredit juga patut diberikan kepada jajaran cast utama filmnya. Dian Sastrowardoyo bersinar diperannya sebagai Aruna, di mana ia bisa membawakan the-fourth-wall-breaking karakternya secara kharismatik, tepat ekspresi, dan tentunya lucu. Serta, chemistry platoniknya dengan Nicholas Saputra sebagai Bono terasa lebih organik dan menyenangkan dibanding biasanya. Oka Antara dan Hannah Al Rashid pun bermain cukup bagus sehingga menambah lengkap elemen dan rasa yang ada di dinamika hubungan keempat karakternya.

Pada akhirnya, Aruna Dan Lidahnya merupakan sebuah sajian yang lengkap dan sedap untuk dinikmati. A feast for the eyes, soul, and (maybe later) belly!

Rating: ☆☆☆☆★

[ARUNA DAN LIDAHNYA MASIH TAYANG DI BIOSKOP]