Formula Klasik Dalam Balutan Semangat Baru Representasi dan Karakteristik Unik

Di tengah gelombang baru pergerakan sinema Hollywood yang mulai memerhatikan pentingnya representasi dalam sebuah karya film, Crazy Rich Asian muncul ke permukaan dengan memecah banyak stereotip dan pakem tradisional. Sejak awal, film ini digadang-gadang akan menjadi sebuah fenomena kultur Asia dalam sinema Hollywood, seperti sebelumnya Black Panther bagi masyarakat Afrika-Amerika di awal tahun ini. Bagaimana tidak? Tak hanya tampil dengan cast mayoritas keturunan Asia, namun juga penyajian inti problematika yang “sangat Asia” dalam plotnya. Tentu saja hype dan buzz tinggi mengiringi langkah Crazy Rich Asian saat memulai masa tayangnya.

Menyajikan modern twist of fairytale romance yang sebelumnya di Amerika merupakan ranah eksklusif bintang kaukasian, film ini tampil secara elegan dan sangat berkarakter. Dibuka lewat scene kilas balik yang menjadi pondasi kuat untuk strukturnya, film ini kemudian bergerak dengan model penceritaan yang dinamis dan atraktif. Pengenalan karakter utama Rachel Chu (yang diperankan dengan baik oleh Constance Wu), ditampilkan lewat beberapa scene awal dengan ke-efektif-an pakem ‘do show, don’t tell’.

Karakter Rachel dibangun dengan cukup baik sedari awal. Berbeda dengan banyak macam protagonis wanita di beberapa romcom lain yang tak lebih sebagai damsel in distress yang butuh diselamatkan oleh seorang pangeran, Rachel Chu digambarkan sebagai sosok wanita muda akademisi yang cerdas, progresif, dan mandiri. Namun di balik itu juga, sosok Rachel ditunjukkan memiliki sisi sensitif dan kerentanan yang sangat relatable. Dan itu penting, oleh karena penonton bisa menjadikan karakternya someone who they could actually root for. Maka dari itulah, lawan Rachel dalam film ini merupakan karakter yang sangat berbeda kutub darinya, yaitu Eleanor Sung-Young (yang diperankan dengan sangat brillian oleh Michelle Yeoh). Muara konflik dalam film ini ada di antara perseteruan keduanya, dan Eleanor merupakan lawan sepadan untuk Rachel Chu. Kedua karakter ini mempunyai motivasi kuat dalam tiap langkah yang diambilnya, sehingga konflik terlihat natural dan penyelesaiannya di kemudian pun terasa organik.

Tetapi, mungkin karena dinamika itulah, karakter Nick Young (diperankan oleh Henry Golding) menjadi agak terpinggirkan dan tak terlalu tergali kedalamannya. Karakternya terlalu sempurna -bahkan terkadang terasa seperti hanya satu dimensional- dan berada di cerita hanya untuk kebutuhan plot device. Selain itu, side plot yang porsinya cukup besar di sini adalah drama rumah tangga Astrid (Gemma Chan) dan suaminya, yang mungkin dimaksudkan menjadi parallel konflik utama, namun juga terasa agak dipaksakan dan out of place. Toh, hal-hal tersebut tak lantas jadi soal karena tak secara langsung mengganggu sajian konflik utama.

Visual yang mumpuni, set design yang megah, dan soundtrack yang apik menjadi unggulan dalam film ini. Namun, yang lebih krusial adalah pengarahan sutradara Jon M. Chu yang cukup bisa menjaga tempo dan mengatur keseimbangan porsi antara drama dan komedi. Karena, ketika eksploitasi visual kemewahan mulai terasa repetitif, flow penceritaannya masih sangat nyaman untuk diikuti dan tak pernah jadi membosankan.

Maka dari itulah, dengan segala macam pesona dan karakteristik unik filmnya, Crazy Rich Asian dapat menjadi tontonan berbeda walaupun masih memakai pakem formula romcom klasik. Tak hanya menjadi kemenangan Asia dalam hal representasi di sinema Hollywood, namun juga jadi sebuah tontonan apik yang pantas untuk segala antisipasinya.

Rating: ☆☆☆★★