Ambisi Di Ambang Batas Kesablengan

Sejak diumumkan ke publik, proyek reboot film WIRO SABLENG PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212, yang diadaptasi dari seri novel populer karya legenda Alm. Bastian Tito, sudah menahbiskan diri sebagai salah satu proyek besar dalam kancah sinema Indonesia. Mulai dari keterlibatan nama besar Fox International Production yang digandeng Lifelike Pictures dalam produksinya, deretan cast besar bertabur bintang lokal kenamaan, serta materi promosi luas yang menyamai model film blockbuster Hollywood. Semua faktor di atas menunjukan keseriusan dan juga ambisi besar di balik kebangkitan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 di layar lebar. Bagi Vino G. Bastian sendiri, proyek ini terlihat lebih personal karena Wiro Sableng merupakan karya dari mendiang sang Ayah, Bastian Tito. Sehingga bisa dibilang, ini adalah usahanya untuk menjaga warisan ayahnya agar tetap hidup dan dinikmati oleh khalayak. Ambisi dan keseriusan yang tentu saja tertampak dalam hasil akhir filmnya, menjadikannya sebagai sebuah produksi besar yang sistematis nan elegan di kancah sinema Indonesia.

Ambisi yang sama pun terlihat dalam plot cerita filmnya. Mengisahkan Wiro Sableng (Vino G. Bastian), Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, yang tak sengaja terlibat dalam insiden penculikan Pangeran (Yusuf Mahardika) dan Putri Rara Murni (Aghniny Haque) oleh golongan hitam dunia persilatan, yang sebetulnya merupakan sebuah konspirasi penggulingan tahta kerajaan dari kekuasaan Raja Kamandaka (Dwi Sasono). Bersama Anggini (Sherina Munaf) dan Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarazi), Wiro memulai petualangannya dalam menyelamatkan kerajaan dari golongan hitam, di balik misi pribadi yang diemban dari gurunya, Sinto Gendeng (Ruth Marini), untuk mencari dan membawa pemimpin golongan hitam, Mahesa Birawa (Yayan Ruhiyan), ke Gunung Gede untuk diadili atas dosa masa lalunya.

Memakai formula a la film superhero Hollywood, dengan mengadaptasi lepas beberapa unsur dari empat judul seri novel Wiro Sableng (Empat Brewok dari Goa Sanggreng, Maut Bernyanyi di Pajajaran, Dendam Orang-orang Sakti, serta Keris Tumbal Wilayuda), tentu timbul kekhawatiran akan terjadinya sesak dalam penceritaan. Benar saja, film ini terasa kesulitan untuk bertutur di paruh awalnya. Penggambaran semesta filmnya, lewat narasi singkat Sinto Gendeng yang diiringi montage latihan silat Wiro dari masa kecil hingga dewasa, belum cukup dalam menggambarkan dan menyiapkan apa yang akan muncul setelahnya. Selain misi Wiro untuk menemukan Mahesa Birawa yang cukup disiapkan dengan baik latar belakangnya, konspirasi penggulingan kekuasaan, yang merupakan benang merah besar lain plot film, terasa sekonyong-sekonyong muncul. Mulai dari urgensi pemberontakannya, mengapa itu dilakukan, dan sampai kenapa kita mesti memihak pemerintahan lama pun tak secara gamblang terjelaskan selain lewat alasan normatif. Begitupun kondisi dunia persilatan dengan segala macam intriknya, yang tergambar sebatas lewat saja berdasar konflik klasik hitam dan putih.

Persoalan ini pun muncul kembali untuk beberapa karakter penting dalam filmnya. Selain Wiro yang merupakan karakter utama, karakter penting lain tak punya cukup jatah porsi pengenalan yang memadai secara waktu dan, sayangnya, tak pula efektif secara eksekusi. Terutama untuk karakter Anggini dan Bujang Gila Tapak Sakti, yang terasa tak punya motivasi jelas dan kefamiliaran kuat yang tertampak untuk masuk ke situasi. Hal ini membuat pembentukan chemistry antar ketiga tokohnya -bersama Wiro- sebagai trio utama di film terasa agak kurang klop.

Kesablengan Yang Kurang Lepas

Sebagai film laga, tentu saja aspek aksi dan koreografi tarung merupakan salah satu bagian terpenting. Untungnya, film ini berhasil menampilkan itu semua dengan sangat baik. Rangkaian koreografi tarung dirancang oleh Yayan Ruhiyan secara detail dan penuh presisi sesuai dengan karakteristik, aliran, serta gaya masing-masing tokoh. Vino sebagai pemeran utama pun berhasil menjadi penampil adegan tarung yang yang cukup baik dan meyakinkan sebagai Wiro, walau bisa dibilang belum setingkat Yayan yang memang sudah lama jadi petarung di film-film aksi lain.

Mungkin yang sedikit menjadi persoalan adalah bagaimana terkadang ritme pertarungan yang kurang mengalir dan impact yang kurang terasa. Belum lagi soal bagaimana menyelipkan kekonyolan dalam rangkaian pertarungan (yang memang seharusnya ada di Wiro Sableng) yang masih terasa kurang halus dan tempo komediknya belum pas. Hal ini terkadang memunculkan sedikit kecanggungan dan inkonsistensi corak di beberapa adegan; kadang terlalu serius, kadang malah terlalu dibuat-buat. Tak natural dan kurang lepas.

Epilog (?)

Namun, coba kita abaikan sejenak segala kekurangan WIRO SABLENG dan mengapresiasinya sebagai salah satu pencapaian produksi film Indonesia yang terasa elegan dan berkelas. Keberhasilan produksinya semoga akan menjadi pembuka keran film fantasi laga dan genre alternatif yang masih sangat langka keberadaannya di Indonesia.

Film ini dikerjakan dengan keseriusan dan gairah tinggi dalam menghasilkan sesuatu, yang saya yakini penonton pun bisa turut merasakan semua hal tersebut tertampak di layar. Dan menurut saya, itulah yang terpenting.

Bukan begitu?

Rating: ☆☆☆★★

[WIRO SABLENG PENDEKAR KAPAK MAUT NAGA GENI 212 SEDANG TAYANG DI BIOSKOP]